Bulan Ramadhan yang sering disebut sebut sebagai bulan suci ini merupakan momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan amal dan ibadah untuk meraih ampunan dan limpahan pahala Ramadhan. Salah satu keutamaan bulan Ramadhan ini tersimpan dalam satu malam, yaitu malam lailatul qadar.
Penjelasan mengenai lailatul qadar juga dijelaskan secara rinci dalam buku berjudul Menggapai Malam Lailatul Qadar yang ditulis Ahmad Rifa`i Rif`an (2013:137) yang menyebutkan bahwa salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah adanya lailatul qadar yakni malam yang nilainya setara dengan seribu bulan.
Baca juga : Shalat Sunnah Fajar : Keutamaan Mengerjakannya
Waktu turunnya malam lailatul qadar tidak diketahui oleh satu orang pun, kecuali Allah. Namun Allah memberikan petunjuk melalui Nabi Muhammad untuk dapat mencari malam lailatul qadar di dalam 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Baca juga : Kisah Rasulullah SAW Shalat Subuh Kesiangan dan Hikmahnya
Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadits tentang malam lailatul qadar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini:
التمِسوها في العشرِ الأواخرِ من رمضانَ، ليلةَ القدرِ، في تاسِعةٍ تَبقى، في سابِعةٍ تَبقى، في خامِسةٍ تَبقى
Artinya: “Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, pada malam yang ke sembilan tersisa, malam yang ke tujuh tersisa, malam yang ke lima tersisa” (HR. Bukhari)
Aisyah mengatakan, saat memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Rasulullah SAW fokus beribadah, memperbanyak ibadah di malam hari, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah,” (HR Al-Bukhari). Hadits ini dijadikan Ibnu Bathal sebagai landasan bahwa lailatul qadar terdapat pada sepuluh akhir Ramadan.
Semasa hidupnya Nabi mencontohkan untuk mengamalkan sederet ibadah sunnah untuk meraih keutamaan bulan Ramadhan. Salah satu ibadah tersebut adalah membaca doa malam lailatul qadar.
Baca juga : Adzan Terakhir Bilal Bin Rabbah
Doa malam lailatul qadar ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi berikut ini:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Artinya: Beliau berkata: Wahai Rasulullah, seandainya aku bertepatan dengan malam Lailatul Qadr, doa apa yang aku katakan? Beliau berkata, “Katakan: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwan fa’fu ‘anni” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau menyukai maaf, maka maafkan aku)” (HR. Tirmidzi)
Adapun tanda Lailatul Qadar dapat dirasakan pada pagi harinya yaitu udara dan suasana pagi yang tenang. Ibnu Abbas RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, "Lailatul Qadar adalah malam tenteram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah."
Cahaya mentari redup menjadi tanda Qadar dan hal ini sesuai hadits Nabi yang menginformasikan ciri malam Qadar adalah bila ada cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya.
Dasarnya dari hadits Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu,bahwasanya Rasulullah SAW bersabda. "Keesokan hari Lailatul Qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan.” (HR Muslim).
Ciri yang lain dari Lailatul Qadar adalah malam itu terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan).
Baca juga : Sifat Nabi Muhammad SAW
Dasarnya adalah hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahuanhu berikut ini. "Malam itu adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tenteram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadr adalah, matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu." (HR Ahmad)
“Lailatul Qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan).” (HR Ath Thabrani).

Komentar
Posting Komentar